17 Feb 2012

Vertikultur Alternatif Budidaya Perkotaan

               Vertikultur adalah cara pertanian baik indoor maupun outdoor, karena kepemilikan lahan terbatas yang dirancang sedemikian rupa sehingga berposisi vertikal atau bertingkat.  Ini merupakan konsep penghijauan yang diintroduksikan di perkotaan yang mulai gersang dan pengap. Memanfaatkan sedikit lahan dalam sistem ini tidak jauh berbeda dengan menanam pohon seperti di kebun, sawah atau dalam polibag sekalipun.

               Vertikultur tidak hanya sekadar kebun vertikal. Namun ide ini akan merangsang seseorang untuk menciptakan khasanah biodiversitas di pekarangan yang sempit sekalipun. Dengan struktur vertikal, akan memudahkan pengguna membuat dan memeliharanya. Walhasil, akan mengundang kupu-kupu dan burung serta makhluk hidup lain meramaikan keberadaan vertikultur tersebut.  

                 Kita dapat memanfaatkan berbagai alat dan bahan yang biasanya tersedia ataupun dijual diperkotaan, misalnya: pipa 
paralon (PVC) atau bambu betung (diameter ±10 cm), kawat ayam, gergaji atau bor listrik, dengan bibit tanaman serta media tanamnya.  Paralon ataupun bambu dilubangi dan dibuat tegak atau bertingkat-tingkat. Tinggi bambu dari permukaan tanah sesuai dengan kebutuhan (120-150 cm), namun harus dipertimbangkan kemudahan orang yang merawatnya. Jika kita menginginkan membuat rak-rak, buatlah dari kayu, papan atau bumbu. Sejumlah pot tanaman dapat pula dijejerkan di atas rak. Soal wadah pohon itu, tidak harus membelinya di pasar. Coba saja tengok ke gudang atau serambi rumah. Kaleng cat, bekas minyak pelumas, atau botol plastik minuman mineral yang sudah tidak terpakai, dapat dimanfaatkan.
Mengenai model dan ukuran, terserah kreativitas penggunanya. Dibuat sedemikian rupa agar mampu ditanam banyak tanaman. Pada umumnya adalah berbentuk persegi panjang, segi tiga, atau dibentuk mirip anak tangga. Dengan beberapa undak-undakan atau sejumlah rak.  Yang penting adalah kuat ataupun  mudah dipindah-pindahkan.
Tanaman yang akan dikembangkan disesuaikan dengan kebutuhan. Namun, usahakan tanaman yang memiliki nilai ekonomis tinggi, berumur pendek, atau tanaman semusim. Setidaknya, tanaman tersebut berakar pendek, seperti selada, kangkung, bayam, pokcoy, caisim, katuk, kemangi, tomat, pare, kacang panjang, mentimun, ataupun bunga-bungaan seperti petunia. 

                  Pemeliharaan dalam vertikultur inipun relatif mudah, tanaman cukup disiram setiap hari, dan jika memungkinkan tidak perlu menggunakan pestisida.  Seandainya kita memiliki aerator dengan watt yang cukup (seperti untuk akuarium), sistem irigasinyapun dapat terus-menerus. Perlakuan lainnya, sama ketika kita menanam di pot atau di atas tanah langsung yaitu dengan memberikan pupuk cair atau pupuk granule dengan cara disemprotkan ke setiap lubang.  Penambahan kompos,  dilakukan dengan cara dipadatkan disekitar tanaman yang sudah tumbuh. 
 Bagi para pengguna yang sudah komersial pengembangan vertikultur ini perlu dipertimbangkan aspek ekonomisnya agar biaya produksi jangan sampai melebihi pendapatan dari hasil penjualan tanaman.  Sedangkan untuk hobiis, vertikultur dapat dijadikan sebagai media kreativitas dan memperoleh panenan yang sehat dan berkualitas.

*Dari berbagai sumber

15 Feb 2012

Syarat Lulus S-1, S-2, S-3: Harus Publikasi Makalah

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran bernomor 152/E/T/2012 terkait publikasi karya ilmiah. Surat tertanggal 27 Januari 2012 ini ditujukan kepada Rektor/Ketua/Direktur PTN dan PTS seluruh Indonesia. Seperti dimuat dalam laman www.dikti.go.id, surat yang ditandatangani Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso itu memuat tiga poin yang menjadi syarat lulus bagi mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3 untuk memublikasikan karya ilmiahnya.

Disebutkan bahwa saat ini jumlah karya ilmiah perguruan tinggi di Indonesia masih sangat rendah. Bahkan, hanya sepertujuh dari jumlah karya ilmiah perguruan tinggi di Malaysia. Oleh karena itu, ketentuan ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah karya ilmiah di Indonesia. Apa saja bunyi ketentuan itu?

1. Untuk lulus program Sarjana harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah.
2. Untuk lulus program Magister harus telah menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah nasional, diutamakan yang terakreditasi Dikti.
3. Untuk lulus program Doktor harus telah menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal internasional.

Ketentuan ini berlaku mulai kelulusan setelah Agustus 2012. Kompas.com menghubungi Dirjen Dikti Djoko Santoso dan berjanji akan memberikan penjelasan lebih jauh mengenai ketentuan ini pada hari ini, Jumat (3/2/2012).

Beberapa waktu lalu terungkap bahwa jurnal perguruan-perguruan tinggi Indonesia yang terindeks dalam basis data jurnal dan prosiding penelitian internasional, seperti Scopus dan Google Scholar, masih sangat rendah. Tak hanya karya ilmiah para mahasiswa, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran Eky S Soeria Soemantri juga mengakui minimnya hasil penelitian para peneliti Indonesia yang dipublikasikan dalam jurnal penelitian internasional.

"Itu makanya para peneliti harus diberikan pelatihan agar memiliki kemahiran dalam menulis," kata Eky kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

intinya:
*jadi sebelum lulus selain skripsi kita (yang lulus diatas Agustus 2012) harus membuat jurnal ilmiah yg dikirim ke http://isjd.pdii.lipi.go.id/
*setelah mendapatkan Akreditasi/nilai maka baru kita bisa jadi Sarjana


sumber: kompas.com
gambar: google

8 Feb 2012

Masalah Kedaulatan Pangan dan Nasip Pahlawan Pangan

Organisasi dunia buruh tani dan petani dunia La Via Campesina mengeluarkan konsep alternatif yang disebut kedaulatan pangan (food sovereignty). Kedaulatan pangan didefinisikan sebagai hak sebuah negara dan petani untuk menentukan kebijakan pangannya dengan memprioritaskan produksi pangan lokal untuk kebutuhan sendiri, menjamin ketersediaan tanah subur, air, benih, termasuk pembiayaan untuk para buruh tani dan petani kecil serta melarang adanya praktek perdagangan pangan dengan cara dumping. 



Selama ini negara kita yang dikenal dengan negera Agraris dimana hampir sebagian besar masyarakatnya merupakan bermatapencarian sebagai seorang petani, namun belakangan ini tampaknya harus tergusur dengan semakin pesatnya perkembangan perkebunan di Indonesia. Kebijakan pemerintahpun seolah mengaminkan segala kebutuhan yang diinginkan untuk para pengusaha perkebunan yang seolah menjadi prioritas utama di banding memberikan solusi bagi petani tanaman pangan. Bukan bermaksud menyalahkan perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan, namun pemerintah seharusnya mampu memberikn solusi konkrit bagi kalangan petani kecil. Sulit rasanya saat ini kita masih saja tergantung dengan negara pengimpor beras seperti halnya Thailand, jika saja pemerintah dan semua stekholder yang terkait mampu mengoptimalkan SDA dan SDM yang ada yakin Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri dan dengan harga yg stabil. 


Masalah utama bagi petani adalah "MODAL" memang ada di beberapa daerah tertentu saja petani yang mendapatkan semacam "KUR" (Kredit Usaha Rakyat), namun tak jarang pemberian semacam ini dijadikan ajang untuk mendapatkan simpatik kaum petani saja. Dalam kondisi seperti ini tak jarang kebanyakan petani kita banyak yang meminjam modal pada "TENGKULAK" (orang yang memberikan pinjaman uang secara tidak resmi dengan bunga yang sangat besar)  yang menjadi kendalanya terkadang pada saat panen tiba petani rugi akibat nilai jual yang rendah (permainan pasar).

Banyak hal untuk memperbaiki sub sistem Pertanian yang ada di Indonesia, yang paling terpenting adalah jika infrastruktur dan hal-hal tekhnis seperti di atas dapat terselesaikan mungkin tinggal menunggu waktu saja Pertanian di Indonesia akan maju.

"Berikan apa yang kamu mampu selagi kamu bisa"




Penulis: wawan